Nasional

Aktivis 98 Sesungguhnya Tak Akan Dukung Prabowo Karena Tergolong Penghianatan Perjuangan Demokrasi

JAKARTA –  Jaringan Aktivis Reformasi Indonesia 98 (Jari 98) Willy Prakarsa menegaskan malapetaka lima belas Januari 1974 atau yang lebih dikenal dengan Malari. Peristiwa yang sering digambarkan sebagai kerusuhan sosial yang dipicu oleh aksi mahasiswa Jakarta, namun ditumpas hanya dalam semalam oleh presiden Soeharto dan ABRI-nya. 

Namun saat ini merupakan momentum bagi aktivis 98 dalam mengisi demokrasi dengan  menentukan pilihan pada sosok capres-cawapres yang tepat di Pilpres 2019. Lantaran bagaimana pun sejarah membuktikan bahwa lahirnya demokrasi saat ini merupakan bentuk pengorbanan hilangnya para aktivis mahasiswa pada tahun 1998 silam. 

Peristiwa hilangnya aktivis mahasiswa, yang kemudian disebut sebagai insiden penghilangan dan penculikan paksa tersebut, terjadi pada masa pemilihan presiden Republik Indonesia periode 1998-2003. 

“Persetan dgn Peristiwa Malari 74, kini tahun 2019 dan Eranya Aktivis 98.Jari’98 miliki Prinsip jelas dalam mengisi demokrasi dan Komitmen terapkan Kejujuran,Keterbukaan serta Kesetiaan,” kata Ketua Presedium Jari 98 Willy Prakarsa, Rabu (16/1/2019). 

“Aktivis 98 itu tidak pernah Cengeng dalam menghadapi situasional apapun,masuk penjara adalah hal yg biasa sebagai corong Aspirasi rakyat,entahlah klo Aktivis yg bukan dari 98,pasti sudah bikin Surat Penangguhan Penahanan dgn alasan ini dan itu” lanjutnya. 

 Kemudian, masih kata Willy, berbeda pandangan dalam berpolitik merupakan hal yang wajar karena bagian dari demokrasi, namun politik tidak cuma sebatas lentur dan elastis tetapi harus miliki Prinsip dan komitmen yang jelas.

“Kalau masih Abu-abu dalam melihat kisi-kisi mendingan tarik selimut dan tidur aja dirumah. Aktivis 98 miliki peluang dan potensi kuasai Istana jelang 2024 mendatang,oleh karenanya dalam berpolitik saat ini jaga sikap lebih mengedepankan Intlektualisme daripada jadi kompor memanas-manasi suasana jelang Pileg dan Pilpres 17 April 2019,” tandansya. 

Willy menekan bagi aktivis 98 yang mendukung pasangan Jokowi-Ma’ruf merupakan aktivis yang benar-benar memahami betul tentan sejarah. Mengingat menentukan pilihan terhadap capres Prabowo Subianto sama saja dengan menodai perjuangan para aktivis 98.

Mengingat Tim Mawar bentukan Kopassus adalah yang paling bertanggungjawab atas peristiwa penculikan ini. Dalam hal ini dikaitkan dengan Prabowo yang kala itu menjabat sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad). 

“Daripada harus coblos makhluk Tuhan lainnya. Jari’98 mengingatkan bahwa namanya Aktivis 98 itu sulit dikendalikan,namanya juga Aktivis? Makhluk Tuhan yang paling nakal dan gemar sentil penguasa lewat aneka ragam kritiknya. Namun senakal-nakalnya Aktivis tetap saja Makhluk Tuhan yang paling mulia jika di bandingkan dengan Makhluk lainnya seperti Amin Rais,” cetusnya.

Di sisi lain adapun para aktivis 98 yang pernah diculik paksa saat Maret 1998.

Andi Arief saat ini diketahui sebagai Politikus Partai Demokrat dan Desmond Junaedi Mahesa, Politisi Partai Gerindra dan masih ada beberapa lainnya. Kemudian adapula puluhan aktivis lainnya yang hilang hingga saat ini entah ke mana rimbahnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top